My Love My Cupcake : Chapter 1

cover-225

Cover by : Hanhyema design Art 

Cast : Luhan as M. Syamsullah Hamdan and Maira as Syarifa Humaira Ihsan (OFC)

Other cast : You can find in story

Genre : Romance, Comedy, Fluff

Rating : General +13

CHAPTERED STORY

Sorry to a bad story and not funny like a wish ._. hope you enjoy read my fanfiction ^^

ATTENTION! DONT PLAGIATOR! THE CAST BELONG’S GOD AND OC IS MINE! AND PLEASE DONT BE SILENT READERS~

©Asweety16 Present 26 Desember 2013

 

MY Love My Cupcake

CHAPTER1

 

 

 

 

 

 

Laillahailallah..

Adzan maghrib telah berbunyi. Keluarga Ustad Gikwang sedang berbuka puasa karena mereka semua sedang melaksanakan puasa ‘Senin-Kamis’. Mereka semua terdiri dari satu ayah(biasa disebut Abi yang menjadi Ustad), Ibu(biasanya disebut Umi dan menjadi ibu rumah tangga), dua orang anak ( kakak-beradik yang harus menaati kata orang tuanya).  Keluarga Ustad Gikwang sedang berada diruang makan yang bersebrangan dengan dapur dan ruang tamu. Rumah mereka memang minimalis namun terkesan nyaman. Saat sang kepala keluarga-Abi sedang menelan makananya, ia langsung berkata.

“Sungmin, kamu kalau keluar itu..sering-sering ajak Maira. Kasian Mairanya, Masa adik sendiri ditelantarkan dan hanya membantu Umi saja? Kamu sama adik kamu harusnya kompak. Walaupun sifat kamu yang kadang cengengesannya kelewatan.” Abi menasehati Sungmin-anak Sulungnya dengan lembut tanpa ada emosi kemarahan kepada anaknya. Sungmin yang sedang memakan makanannya itu berhenti sejenak untuk mendengar perkataan Abinya. Lalu Uminya yang ber-khas gaya ibu-ibu rumah tangga alim -yang bernama Taeyeon langsung bertanya.

“Iya. seharusnya kalau adikmu bantu Umi, kamu juga harus bantu Umi atau Abi. Bukan nyungsek ke sawah…” Sungmin tersedak saat ia akan menelan makananya. Sawah? Dari mana Umi tau kalau gue pernah nyungsek ke Sawah? Pikir Sungmin didalam hatinya. Maira-adiknya segera memberi segelas air putih milik Sungmin kepada Sungmin. Segeralah Sungmin meminum air putihnya sehingga air digelasnya tinggal setengah gelas.

“Umi..Sungmin bukannya gak mau bantu Umi, kadang saat Umi butuh bantuan dari Sungmin, Sungmin gak sempat karena ada latihan Marawis di Mushola.”

“Abi tanya lagi. Terus kapan kamu mau mengajak Maira bermain bersama?”

“Eh Abi..Maira tidak apa-apa kok. Maira sudah terbiasa bantu Umi. Lagian kalau Kak Sungmin sibuk Maira juga kadang sibuk.” Maira menjawab pertanyaan Abinya yang seharusnya untuk Sungmin.

“Hehehe..maaf Bi, soalnya Sungmin suka diajak sama bang Leeteuk buat nyiapin pengajian.”

“Pengajian atau main bola..” Sungmin melirik adiknya yang sedang memakan makananya yang belum habis itu.

“Ih..ge’er  deh,” Sungmin yang tak mau disangka seperti itu segera membalas balik perkataan Maira.

“Dua-duanya pastilah Sungmin. Kalau gak sama Donghae pasti sama Leeteuk. Kapan kamu mau main masak-masaknya sama Ryewook?” Maira terkekeh geli sambil menutup mulutnya dengan satu tanganya. Pipi Sungmin sudah sedikit memerah akibat perkataan Abinya itu. Uminya hanya menggeleng pelan mendengar perkataan suaminya itu.

“Ampun Mi, iya deh. Nanti Sungmin bakal ngajak Maira.”

“Haha..benar’kan apa yang Abi katakan?” Abinya hanya tertawa geli mendengar ucapan Sungmin tadi. Maira hanya tersenyum saat melihat Sungmin memakan makanan yang masih tersisa itu dengan pipi  yang memerah.

Kukuruyuk~

“Luhan!! Ayo bangun! Bantuin Umi gih, lu belum sholat Subuh’kan? Udah jam 5 lewat 15 tuh.” Kris-Kakaknya itu sedang membangunkan Luhan-dengan menggoyang-goyangkan badan adiknya yang sedang tertidur sambil memeluk gulingnya. Luhan-yang menjadi adiknya itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu badannya yang sudah tertidur lama itu segera menggeliat kesan kemari. Ia lihat kakaknya itu yang sedang melipat tangannya diatas dadanya.

“Emang lu udah Sholat, Bang?” tanya Luhan yang mengusap-ngusap kedua matanya sambil berposisi duduk diatas kasurnya.  Luhan merentangkan tangannya keatas karena tangannya yang pegal akibat tertidur itu.

“Udah. Cepat. Umi minta bantuan lo tuh. Gue juga mau bantuin Abi di Mushola.” Luhan melihat kakaknya memakai baju koko bewarna hijau muda pastel serta peci bundah bewarna putih dan sarung kotak-kotak bewarna coklat.

“Tumben rapih banget lu bang?” Kris mendengus pelan melihat adiknya yang LOLA itu.

“Tadi gue bilang apa ke Lu? Gue mau ke Mushola..jadi gue juga harus pakai baju Koko. Masa gue harus pakai baju Hawai yang cuman pakai rok rumput sama kalung bunga-bunga kamboja? Cepat sana. Umi minta bantuan, tapi sholat dulu.” Luhan segera mengangguk-ngangguk karena baru tersadar dari nyawanya yang belum terkumpul itu. Lalu Luhan beranjak pergi menuju kamar mandi sambil menguap karena masih mengantuk.

Sungmin dan Uminya berada didedaunan pintu rumah. Lalu dengan baju koko serta peci yang rapih , Sungmin segera mencium tangan Uminya sebelum pergi menuju Mushola untuk membantu Abinya “Umi..Sungmin bantu Abi dulu ya. Assalamualaikum…” Uminya segera membalas jawaban salam dari anaknya itu. Pagi Subuh seperti ini sudah kebiasaan Sungmin untuk berkelana menuju Mushola ataupun lainnya—dengan tujuan membantu Abinya.

“Hati-hati ya nak,” Taeyeon segera melambaikan tangannya kepada Sungmin yang sudah berjalan menuju Mushola itu. Lalu Taeyeon yang ingin memasuki rumahnya itu segera dikagetkan oleh Maira yang berada dibelakangnya.

“Mi, ini kue nya udah Maira rapihkan..” . “Masyaallah..” Taeyeon segera mengusap-ngusap dadanya. Terlihat Maira membawa sebuah tas yang muat untuk menempatkan tempat kue-kuenya yang dibox besar itu. Karena penampilan Maira yang memakai baju panjang muslim bewarna cream  dengan motif bunga mawar merah serta rok panjang bewarna merah  dan kerudungnya yang sedang dipakai bewarna merah, Taeyeon menganggap Maira adalah bayangan yang kadang ia lihat dirumahnya.

“Dikira siapa..oh yaudah, kalau kuenya masih sisa kemarin, sebagian kasih kepenjualnya aja.”

“MaafMi, Maira juga ingin makan kue cenil di bu Hamsyah. ” Jawab Maira polos. Taeyeon mengusap kepala Maira yang terhalang oleh kerudung itu sambil mengulas senyuman tulus.

“Yaudah..kalau sudah ngambil uangnya, sebagian kamu beli aja untuk membeli kue cenil di Bu Hamsyah.” Maira tersenyum senang. Lalu dengan semangat Maira segera mencium tangan Uminya itu sambil membawa tas tangan yang besar untuk menempati dua box besar yang berisi kue jenis cupcake.

“Assalamualaikum Umi..”. “Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan ya..” Maira segera menuju keluar rumah untuk mengambil sepedanya yang berada digarasi rumah tersebut. Pintu garasi memang sudah terbuka saat Abinya akan ke Mushola. Lalu tas yang dibawa Maira segera dimasukan kedalam keranjang sepeda dengan hati-hati. Setelah memasukan bawaannya kedalam keranjang sepeda, Maira segera membawa sepedanya kedepan rumahnya dan tak lupa menggeser standar sepeda keatas agar sepeda dapat bergerak.  Sampai didepan rumah, Maira segera menaiki sepedanya dan melesat pergi menuju tujuan yang akan ia tuju.

Kebiasaan Maira untuk membantu Uminya saat pagi Subuh seperti ini membuat Maira memiliki imajinasi layaknya anak-anak kecil—walaupun umurnya yang sudah berpaut umur 17 tahun—tetapi Maira tak akan pernah mengeluh hanya membantu Uminya. Sebab ia suka hawa sejuk yang telah datang turun menuju bumi. Maira seorang wanita berumur 17 tahun yang mencintai alam.

Maira menyapa orang-orang yang berada disekitarnya saat melaju kearah jalan yang ia tuju. Tak heran orang-orang disana menyukai perilaku sopan Maira serta moralnya terhadap yang lebih tua. Toko yang biasa ibunya menitipkan dagangannya berada didua tempat. Pertama berada di pasar dan sebuah toko yang menjual kue-kue manis. Tujuan Maira sekarang pergi ke Toko dan terakhir menuju ke Pasar sekaligus membeli kue cenil langgananya serta membeli bahan-bahan bumbu dapur yang Uminya titipkan kepadanya.

“Tumbenan amat lu bantu Ustad Fajar..biasanya lu juga yang bantuin Umi lu setiap hari..Adek lu kemana?” Sungmin sedang membantu memberes-bereskan Mushola yang akan dipakai untuk pengajian pagi nanti. Kris yang juga sedang membantu Sungmin dibelakang Mushola–menyiapkan dus-dus minuman bermerk ‘AQUA’ segera ditanya oleh Sungmin. Mereka berdua berada dibelakang Mushola beserta 4 dus besar yang berisi minuman-minuman gelas air mineral tersebut.

“He’eh. ceritanya adik gue itu’kan sering banget bantuin Abi kayak gini. Apalagi dia juga jarang bantu Umi. Katanya Abi juga, biar imbang..gue gantiin dia sementara sampai Abi ngebolehin Luhan ikut bantu Abi. Lagian Luhan juga jarang kepasar’kan? Atau ketukang sayur keliling begituan.” Sungmin hanya mengangguk-ngangguk mengerti.

“Berarti selama ini, lu yang pergi kepasar dong? Ahaha! Calon suami rumah tangga!” Sungmin tertawa tidak jelas saat mendengar pernyataan Kris tadi. Kris hanya memutar kedua bola matanya itu karena sindiran-baik Sungmin kepadanya.

“Yah begitulah. Tapi gitu-gitu juga. Lumayan’kan si Luhan bisa ketemu adek lu setiap hari juga? Ngitung-ngitung biar Luhan gak jones gara-gara liat Lala sama Daesung? Iya gak?” akhirnya Kris dan Sungmin tertawa ria setelah Kris berkata jujur dengan Sungmin.

“Sungmin, Kris? Sudah dibereskan belum dus-dusnya? Ayo masuk bantuin Abi membereskan Mushola lagi..” Sungmin menoleh kearah Abinya yang berdiri dibelakang mereka berdua. Kris masih menata dus-dus yang baru diantar oleh orang-orang yang mengantar dus-dus tadi.

“Iya Bi, ini mau diagkat..sebentar lagi ya Bi.” Lalu Abinya mengangguk mengerti dan langsung meninggalkan Sungmin beserta Kris yang sedang berusaha mengangkat dua dus besar tersebut

“Rahasia ini jangan sampai bocor ya. Apalag adek lu Bang, mati aja gue kalau sampai ketauan sama dia. Oke?” Sungmin segera mengangguk-ngangguk apa yang baru dikatakan Kris lagi. Akhirnya mereka berdua pergi dari tempat tersebut.

Luhan sedang menyapu halaman rumahnya yang minimalis tersebut.  Walaupun matahari belum nampak, keringat Luhan sudah sedikit menetes dari pelipisnya. Luhan belum menggantikan baju koko bewarna birunya yang dibuat sehabis sholat tersebut, ia hanya sempat menggantikan sarungnya dengan celana jeans panjang yang berbahan halus. Luhan mengusap pelispisnya yang berkeringat itu dengan lengannya yang terbalut oleh lengan baju koko panjangnya itu. Sesekali ia melirik langit yang sudah cerah.

“Luhan…bisa tolong Umi?” Luhan menoleh kearah Uminya yang sudah didepan teras rumah. Segeralah Luhan pergi menuju tempat dimana Uminya berada dengan membawa sapu halaman yang ia gunakan untuk menyapu tadi.

“Ada apa Mi?” Uminya segera memberikan daftar belanja yang ditulis dikertas beserta uang sebesar RP 150.000 namun dengan beberapa pecahan uang puluhan dan beberapa uang ribuan. Luhan segera mengambil kertas dan uang tersebut lalu membaca semua daftar belanja yang diberikan olehnya.

“Biasanya’kan abangmu yang pergi ke Pasar. Sekarang kamu yang beli ya. Lumayan’kan cuci mata lihat pemandangan?” Luhan membaca perlahan-lahan daftar belanja tersebut.

“Sepedanya sudah Umi siapkan. Kamu sudah selesai menyapunya’kan? Kalau belum biar Umi yang melanjutkan.” Luhan mengangguk mengerti dan segera mencium tangan Uminya.

“Luhan berangkat dulu ya Mi, Assalamualaikum…” Uminya segera mengambil sapu yang sedari tadi dipakai Luhan untuk menyapu.

“Waalaikumsallam. Hati-hati dijalan ya,” Luhan segera mengambil sepedanya yang berada didepan garasi rumah disamping rumahnya itu menuju kedepan pagar rumah yang terbuka lebar itu. Setelah berada didepan  rumahnya, Luhan segera melesat pergi ketempat tujuannya.

“Ada kue yang sisa?” tanya Taeyeon kepada Maira. Mereka berdua berada di dapur. Baru saja Maira datang. Maira segera menata belanjaan Ibunya yang dititipkan oleh Maira tadi.

“Yang di Toko sisa satu jadinya buat Bu Khadijah, Yang dipasar Alhamdulillah laku semua. Ini penghasilan dari toko dan pasar. Serta uang kembalian belanja ibu.” Maira memberikan semua uang yang ia ambil dari penghasilan di toko dan dipasar serta uang kembalian dipasar tadi.

“Alhamdulillah, kamu juga sudah beli kuenya?” Maira menunjukan satu kantung plastik yang bening itu dengan senyuman manisnya.

“Aku mengambil beberapa uang dari penghasilan yang dipasar Mi, tidak apa-apa’kan?” Taeyeon segera mengusap kepala anaknya itu dengan tulus.

“Tidak apa-apa. Sekarang kamu istirahat sambil makan kuemu. Urusan nyapu-menyapu biar abangmu saja.” Maira mengangguk mengerti. Lalu ia menyiap satu piring plastik dirak lemari atas wastafel dan mengeluarkan satu bungkusan dari plastik bening tadi yang dibungkus dengan daun pisang serta mengambil sendok ditempat sendok yang telah sediakan disamping tempat rak piring yang telah dicuci.

Maira segera membawa perlengkapannya –terdiri dari perlengkapan makannya tadi dan sebuah Earphone besar bewarna putih serta MP3 player music— kehalaman taman belakang rumah. Disana tempat tanaman milik keluarganya diletakkan. Banyak tumbuhan sepeti bunga-bunga yang bersemak-semak mengelilingi halama tersebut.

Lalu Maira segera duduk dibanku taman yang diletakkan mengahadap barat  sehingga jika dilihat menyamping dan didekat kolam Ikan berukuran sedang yang berisisi ikan-ikan kecil. Bangku tersebut diletakkan didekat kolam agar Maira bisa bermain dengan ikan-ikan tersebut—Karena Maira menyukai Ikan semenak umur 8 tahun. Pemandangan yang Maira lihat adalah jalanan yang asri dengan beberapa pohon yang rindang. kicauan burung menemani Maira disini. Langit sudah bewarna biru pagi. Maira suka dengan pemandangan disini. halaman belakang cukup luas dan dipagari dengan pagar kecil sehingga tak menghangi pemandangan luar.

“Alhamdulillah..makan kue cenil lagi. Setel lagu dulu ah,” Maira menyiapkan headseatnya dan menyalakan MP3nya. Mengatur lagu apa dan volume lagu tersebut. Setelah beres Maira segera membuka bungkusan makanan yang ia beli. Maira tersenyum senang karena ia bisa memakan kue yang ia sukai itu. Piring yang ia jadikan tatakan untuk makanananya ini segera diangkat. Tak lupa ia membaca Bismillah. Lalu  Maira segera menyuapi makanannya dengan sendok kedalam mulutnya. Maira mengunyah makanannya dengan senyuman manis.

“Hah~ adem juga pemandangan disini..” Luhan bersiul-siul ria karena mendengar kicauan burung yang menjadi alunan pagi seperti ini. sambil mengendarai sepedanya, Luhan melihat pemandangan disekitarnya. Luhan suka dengan jalanan asri yang disamping kanan-kiri jalan terdapat pohon-pohon atau tumbuhan hijau dengan bunga-bunga yang tumbuh serta jalanan yang cukup bagus dan halus sehingga nyaman untuk mengendarai kendaraan apapun.

“Gue pengen makan cupcake ah~ Bawa uang gak ya? Entar aja deh liatnya.” Luhan menyusuri jalanan tersebut sambil mengayuh sepeda berkeranjangnya itu. Tak sengaja Luhan melihat sekitar, Luhan melihat seorang wanita yang sedang duduk menghadap barat–karena letak bangkunya yang menghadap barat—sedang asyik memakan sesuatu. Luhan terkesima dengan perempuan berjilbab seperti anak-anak santri itu. Luhan tak bisa memalingkan wajahnya dari wajah perempuan yang sedang asyik memakan sesuatu itu. Tanpa ia sadari, bibirnya berbicara pelan.

“Cantiknya..” walaupun sepeda Luhan measih melaju, namun pandangan Luhan masih kearah perempuan yang sedang duduk manis dengan Headset putih yang bertengger dikepala perempuan itu. Perempuan yang sedang dipandang Luhan itu..Maira, yang sedang memakan kue cenil.

“Eh? awas?!” merasa ada seseorang yang berteriak, Luhan segera menghadap kedepan lagi. Luhan melihat ada seseorang yang membawa sepeda juga akan melaju menujunya. Luhan ingin merem namun sepeda itu sudah menabrak sepeda miliknya.

BRUAK!TING!

Maira yang merasa ada suara gaduh pun segera meghentikan suapannya itu. Ia menoleh kekanan dan kekiri. Namun tak ada siapa-siapa. Mungkin firasatku doang. Pikir Maira sambil melanjutkan memakan makanannya tadi.

Luhan dan seseorang lelaki yang memakai baju koko lengan pendek bewarna merah-ungu itu terjatuh bersamaan. Roda belakangsepeda milik Luhan berputar-putar. Sementara pemiliknya  memegang pinggulnya yang terbentur keras mengenai jalan aspal tersebut. Seseorang yang juga menabrak Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya karena pusing.

“Oy..kalau jalan itu matanya jangan kemana-mana! “ seseorang itu bernama Kai. Kai segera memegang pantatnya yang terbentur keras. Kakinya tertiban oleh sepeda bewarna hitamnya yang berkeranjang itu.

“Ye..salah sendiri juga kenapa lu jalannya lewat jalan berlubang begitu? Udah tau segede gajah begitu ada lobang, kenapa lu nyalahin gue? Jadinya gue ikutan nyungsek juga’kan?”

“Justru lu juga harus liat dong..udah tau lu lagi ngendarain sepeda malah larak-lirik kemana-mana!”

“Terserah gue lah! Gue yang larak-lirik kenapa lu yang sewot? Emangnya rem lu kemana? Copot?”

“Enak aja copot. Rem gue itu suka nge-blong. Lagian gue juga tau kali ada lubang. Tapi lunya aja yang gak liat kalikalau ada lubang sama gue.” Luhan segera bangkit dengan pinggul yang sakit itu serta mendirikan sepedanya yang meniban sepeda milik Kai. Kai juga ikut bangkit dan mendirikan sepedanya itu.

“Emang lu mau kemana? Tumben lu lewat sini?”

“Enak aja, gue setiap hari lewat sini. Harusnya gue yang nanya sama lu. Kenapa lu tumben lewat sini?”

“Pastinya ada tujuan yang mau dituju lah. Masa mau ke Puncak?” Luhan segera memukul-mukul jok tempat mengemudi sepedanya itu.

“Oh, kirain gue lu mau ketempatnya Lala.” Jawab Kai yang polos. Luhan yang mendengar ucapan Kai tersebut segera membesarkan matanya.

“Hah? Apa? Lala? Idih! Siapa juga yang mau main sama dia? Nanti gue dibilang PHO sama pacar kegantengannya itu gimana? Lagian dia juga bukan tipe gue. SorryI ye.. She’s not my type.” Luhan mengibaskan tangannya tanda ia menolak.

“Bukan tipe lu atau lu yang jones gara-gara dia?” Kai langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanya sendiri. Luhan yang malas membahas lama-lama segera menaiki spedanya.

“Terserah lu aja. Yang penting gue udah move on ke yang lain. Dia lebih cantik dari Lala.” Lalu Luhan segera melaju kembali sepedanya menuju tujuannya yang sempat tertunda akibat insiden tadi.

“Beneran lu udah pindah? Palingan lu pacaranya sama kue melulu..” Kai menoleh kearah Luhan yang sudah kembali berjalan mengendarai sepeda.  Kai segera menaiki sepedanya lagi untuk melanjutkan ketempat tujuan yang tertunda itu. Kai ingin menuju rumah Maira. Lalu Kai segera berjalan melanjutkan perjalanannya itu. Kai melihat ada seorang perempuan yang sedang bersantai dihalaman belakang yang cukup luar itu. Lalu Kai berbelok kekiri untuk memutar arah menuju depan rumah Maira.

Maira telah memakan kuenya itu. Piring dan bekas makanan tadi ditaruh disampingnya. Sambil mendengarkan lagunya, ia menutup edua matanya untuk menikmati udara yang berada disekitarnya. Sambil tersenyum tenang menikmati lagu yang mengalun, tiba-tiba Maira merasakan pundaknya disentuh oleh tangan seseorang. Maira menoleh kearah pundaknya. Ternyata ada tangan kekar milik anak laki-laki yang berkulit coklat menyentuh pundaknya. Perlahan-lahan Maira mendongakkan kepalanya untuk melihat tangan siapa yang telah menyentuh pundaknya.

“Assalamualaikum Maira..” Maira melepas Earphone yang sudah menutup kupingnya itu. Ia terkejut melihat seseorang yang ia kenal itu berada ditempatnya sekarang.

“Eh? Waalaikumsallam,” seseorang yang bernama Kai itu segera menampakan senyuman serta giginya yang rapih kepada Maira. Lalu Maira menggeserkan tubuhnya sedikit untuk mempersilahkan Kai duduk. Kai yang tahu maksud isyarat Maira segera duduk disampingnya.

“Kamu kenapa tau aku disini?” Kai hanya tersenyum gaje sambil menggosok tengkuknya.

“Pastinya aku dikasih tau sama Umi mu dong..” Maira mengangguk mengerti.

“Gimana kabar kamu? Kamu sudah sehat’kan? disekolah, kak Nickhun nanyain kamu tuh. Tapi untungnya kamu cuman dicatat gak masuk sehari, soalnya besoknya libur’kan?” Maira mengangguk-ngangguk kembali mendengar perkataan Kai.

“Iya, Alhamdulillah aku sudah sehat kok. Masa sih Kak Nickhun sampai nanyain aku? kamu benar, untung saja aku hanya dicatat gak masuk sehari.” Maira menjawab semua pertanyaan Kai tadi secara berurutan.

“Kalau aku bohong, kenapa aku harus bilang.” Maira tak sengaja melihat sebuah kantung plastik hitam kecil yang sedang dipegang oleh Kai.

“Kai? Kamu bawa apa?” Kai yang teringat dengan kantung plastik yang ia bawa itu segera memberikan kepada Maira. Maira bingung mengapa Kai memberikan kantung plastik itu kepadanya.

“Tadi aku beli kue cenil. Ini buat kamu,  maaf aku ngejenguk kamunya hanya memberikan kue ini.” Maira segera mengambilnya dan segera memeriksa apa yang berada dikantung tersebut.

“Ya ampun Kai. Gak usah repot-repot. Aku juga habis makan kue cenil. Jadi ngerepotin kamu.”

“Enggak papa. Hitung-hitung amal juga. Kita’kan teman. Ngapain harus sungkan-sungkan? Kalau sudah makan, lumayan bukan kamu bisa makan 2 kue cenil?” Akhirnya Maira tersenyum manis kepada Kai. Kai yang melihat senyuman yang terukir oleh Maira itu segera membalas senyuman untuk temanya itu. Hati Kai tak bisa terkontrol akibat melihat senyuman Maira.

“Terima kasih. Ayo kita makan bersama.”

“Tidak usah. Terima kasih. Kamu saja..” Kai mengibas-ngibaskan tangannya tanda ia menolak namun dengan halus.

“Sekarang makanan ini jadi miliku’kan? ayo kita makan bersama. sebagai balas terima kasih aku karena sudah menjenguk keadaan aku.” Kai tersenyum senang akibat hatinya tidak terkontrol kembali. Melihat senyuman dengan eye smile milik Maira, Kai tak dapat mengontrol hatinya yang ingin meledak layaknya balon. Lalu Kai segera mengangguk senang tanda ia menerima tawaran Maira tadi. Kai tidak pernah menolak ajakan Maira jika ditawar dengan cara halus yang tulus.  Lalu Maira menyingkirkan bungkusan makanan yang tadi ia pakai dan mengambil piring bekas ia pakai tadi untuk meletakkan kue yang diberi oleh Kai.

“Oh iya. sendoknya aku ambil dulu ya,”

“Eh, enggak usah terima kasih.” Kai mencegah Maira yang hendak berdiri untuk masuk kedalam rumah.

“Kalau kamu makannya gak pakai sendok terus pakai apa?”

“Enggak papa. Maksudnya sendoknya satu aja.”

“Serius ? tapi-“

“Didalam kuenya ada sendok. Jadi aku pakai sendok dari kuenya aja.” Maira mengangguk-ngangguk mengerti.

Kai membantu membuka makanan yang dibungkus oleh daun pisang itu. Maira meletakkan piringnya beserta makanannya ditengah-tengah dirinya dan Kai. Setelah terbuka, akhirnya mereka berdua membaca Bismillah dan segera memakannya yang dimulai dari Maira lalu Kai yang mengambil sendok dalam kue tersebut. Mereka tertawa saat menikmati makanan yang sedang mereka makan itu. Pagi ini, menjadi catatan diari Kai yang dikategorikan sebagai ‘Hari ter-soSWEET’.

Terlihat Luhan melamun sambil menopang dagunya dengan kedua tanganya disisi jendela. Sepertinya Luhan sedang memikirkan sesuatu. Sambil memandang indahnya langit sore dari jendela kamarnya, Luhan tersenyum-senyum sendiri. baru kali ini ia dapat merasakan bagaimana Love at First Sight seperti yang diceritakan oleh Kakaknya itu. Luhan memikirkan wajah wanita yang ia llihat itu. Wanita yang dipikirkan oleh Luhan adalah Maira.

Ia tak mengetahui nama Maira. Namun ia merasa ada kupu-kupu kecil yang sedang beterbangan dihatinya. Alangkah manisnya wanita tadi. Luhan mengambil satu buah cupcake yang ia ambil dari kulkas tadi—lebih tepatnya baru beli tadi pagi di toko kue langgananya yang berada disamping tangan kirinya. ia segera mengiggit kue itu dengan perlahan agar penglihatan wajah Maira yang manis itu tak hilang. Mungkin dengan cara ia memakan kue, ia dapat membayangkan lebih jauh betapa manisnya wajah Maira jika dilihat dari dekat.

Inikah manisan krim kue sesungguhnya? Pikir Luhan didalam hatinya sambil mengunyah dan menggigit cupcakesnya itu. Creamnya yang lembut tak membuat Luhan merasa enek untuk memakannya. Ia salah satu penggemar cupcakes. Salah satunya kue yang ia makan sekarang. Ia menjadi pelanggang dari toko tersebut. Kadang Luhan juga suka membeli dari pasar—lewat kakaknya yang pergi kepasar. Cupcakes yang ia makan adalah kue terenak yang pernah ia makan disepanjang hidupnya.

Kris yang sedang melewati kamar Luhan itu melihat Luhan sedang duduk dan bertengger dijendela kamar  yang terletak didekat meja belajar Luhan. Kris yang melihat Luhan seperti itu segera memasuki kamar Luhan. Saat Kris sudah dibelakang Luhan, ia memandangi punggung Luhan yang tak memberi respon apapun. Luhan tak menyaari bahwa ada Kris dibelakangnya. Masih saja memandang langit sambil memikirkan Maira.

“Luhan.” Tak ada respon dari adiknya.

“Luhan?” Kris melihat pemandangan langit sore yang terpampang dari luar jendela milik Luhan. Suara Kris yang sudah terbilang kencang itu tak mendapat respon adiknya lagi.

“Ck, kenapa sih sama dia? Aneh..” Luhan masih saja mengunyah kuenya itu sampai habis dan hanya kertas cupcake yang sudah kosong.

“OY LUHAN!!” Luhan tersadar dari imajinasinya itu setelah Kris berteriak dari belakang punggungnya. Mengetahui Luhan sudah meresponya, Kris segera berkacak pinggang melihat tingkah adiknya yang melamun itu. Luhan segera menengok kebalakang bahwa ada seseorang dibelakangnya.

“Eh? abang..hehe,”

PLETAK!

“Kenapa lu gue respon gak jawab-jawab? Masa cuman mandangin langit doang sampai bisa budek gitu?” Luhan meringis kesakitan sambil memegang kepalanya setelah mendapatkan jitakan dari kakaknya.

“Sakit tau! Dikira gak sakit apa?”

“Justru itu! Kenapa gue sahut dua kali pakai toa gak kedengeran juga? Sampai gue manggil lu pakai toa masjid baru lu denger.”

“Enggak papa, bang, Aye lagi mikirin sesuatu aja bang.” Luhan berbalik lagi menghadap jendela dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.

“Dia manis kayak gula. Pipinya kayak kue mantau. Wajahnya bersinar manis dan menggemaskan. Pokoknya dia itu serba kue deh. Kelihatan manis dipandang kayak kue Tart.” Luhan tersenyum tak jelas membayangkan betapa manisnya Maira jika dirinya memandang dari dekat.

“Hah? Gula? Mantau? Dikira mau ngopi?”

“Bukan kopi bang. dia super duper manis kalau dilihat dari jauh, gimana ya? Kalau bisa deket sama dia? Meleleh-lah sudah kueku untuknya,” Kris menggaruk-garuk dagunya layaknya detektif.

“Oh..ternyata adek gue lagi jatuh cinta ya?” Luhan mengubrisnya dengan senyuman tidak jelasnya karena masih memikirkan kejadian tadi pagi.

“Eh cie.. siapa? Lu ketemunya dimana?” Kris mengambil kursi satu lagi yang berada didekat pintu kamar Luhan—yang biasa untuk menaruh tas—dan menggeretnya dekat Luhan sedang memandang langit.

“Tau gak sih bang, gua bukan ketemu langsung. Tapi dari pandangan jauh, dialah yang membuat hatiku meleleh bagaikan coklat yang sedang menabur diatas lembutnya Roll chocolate Cake. Manisnya dia..” Luhan mendengus pelan akibat pikiranya yang melayang entah kemana.

“Ooohhh..gua tau siapa yang lagi lu omongin.”

“Jangan Sotoy bang, aye lagi mikirin kue apa yang persis ples cocok sama dia..” Kris memiringkan mulutnya tanda ia jengkel. Sementara Luhan masih memandang langit sore.

“Sotoy, Sotoy pala lu kelapa? Gue serius. Gue tau siapa yang lo maksud itu. Pasti lo juga ngebandingin dia sama Lala’kan?”

“Emang siapa?” lirik Luhan kepada kakaknya itu.

“Dia anaknya Ustad Gikwang.” Luhan melebarkan matanya sehingga hampir copot. Lalu ia menengok kearah Kris dengan tatapan tak percaya.

“HAH?! APA! TIDAK MUNG-!” Kris menutup rapat-rapat kedua kupingnya agar teriakan Luhan tak memasuki pendengaranya itu.

“SYUUUTTT!! NANTI KUCINGNYA CHEN BAKAL KESINI GIMANA?!” Kris segera membekap mulut adiknya yang sudah terlewat batas volume toak masjid didekat rumahnya itu. Luhan kaget saat tangan milik Kris membekap mulutnya itu. Lalu Luhan memegang tangan Kris yang sedang membekap mulutnya agar terlepas dari tangan milik Kris.

“MMMPPPFFTTTHH!! AA HUHUNGANGNYIA HAHA HUHING? (apa hubunganya sama kucing)” Luhan masih tetap berbicara walaupun mulutnya sedang terkunci.

“Lu emang gak pernah liat gue pernah ditemplok kucingnya Chen yang suka berkeliaran itu gara-gara gue marahin lu akibat lunya numpahin susu gue di selokan depan rumah?” Kris berbicara santai saat menjawab pertanyaan Luhan yang memang tidak jelas didengar itu.

‘MEMASIN UYU MAK? HANGANG O AU HAHEK! (Lepasin dulu gak? Tangan lo bau apek)” Kris segera melepas tangannya yang membekap Luhan itu dan segera memeperkatanganya ketebok. Setelah membuka mulut Luhan, Kris mencium tanganya Astaughfirullah, amit-amit jabang bayi mulutnya bau barongsai! Kata Kris dalam hati saat ia memeperkan tangannya-seperti merasa jijik- ke tembok yang habis membekap mulut Luhan itu. Sementara Luhan sedang menggosokan mulutnya yang sehabis dibekap kakaknya itu. BUJUK  BUNENG! SI ABANG ABIS MEGANG APAAN SIH? BAUNYA KAYAK ABIS NYABUT BULU KETEK AJA! Cibir Luhan di dalam hatinya yang masih membersihkan ‘jejak-jejak’ tangan Kris dimulutnya.

“Tapi gue gak percaya kalau dia anaknya Ustad Gikwang. Berarti dia adiknya Bang Sungmin dong?” Kris yang sudah selesai dengan aktifitasnya sementara Luhan ya masih membersihkan mulutnya itu segera bertanya kembali.

“Nah itu lo tau. Kalau lo mau tau selengkapnya…silahkan tanyakan dengan sepupunya saja.” Luhan menghentikan aktifitasnya.

“Maksud lo? Sehun?” Kris memutar kedua bola matanya.

“Bukan Han, Bukan.” Kris tersenyum manis tanda ia menahan rasa kesal dan bad moodnya itu. “Namanya Hunita Dorayaki. YAH SEHUN-LAH! Masa lo yang udah deket sama Bang Sungmn gak tau sepupunya siapa. Malah sepupuya temen lo juga’kan?” Luhan menutup kedua telinganya karena ia tak mau mendengar teriakan kakaknya itu.

“Sehun itu juga deket sama adeknya Bang Sungmin. Walaupun lu lihat si anak clamitan itu main terus sama lu, tapi dia juga sering kerumahnya buat main bareng adeknya Bang Sungmin, dan sekarang-“

“Kris..Luhan..”. “IYA MI!!!” terdengar suara Umi mereka yang memanggil nama mreka berdua didepan pintu kamar Luhan. Adik-Kakak tersebut kompak dalam menyahut panggilan Uminya itu.

“Sebentar lagi mau Maghrib, jadi ayo, kalian berdua wudhu,” Terlihat uminya yang sudah memakai mukena bagian atas warna putih gading. Lalu Luhan dan Kris saling melirik.

Satu..

Dua..

Tig-

“PERMISI MI! LUHAN MAU WUDHU DULUAN!!” Luhan segera berlari mendahului kakaknya yang juga ingin mendahului  Luhan. Uminya yang sudah menggeserkan badanya kesamping membuat Luhan semakin cepat berlari menyusuri belakang rumah. Disusul Kris yang sempat tersandung kuris milik Luhan.

“MAAF MI! KRIS INGIN WUDHU DULU!” Kris segera berlari menyusuli adiknya itu.

“Adik-Kakak sama saja sifatnya.” Uminya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua anaknya itu. Terlihat dari kejauhan Kris sempat terjatuh tersandung karpet didedaunan pintu dapur rumah namun segera bangkit lagi menyusuli adiknya yang ‘sudah’ mencapai Finish itu.

To Be Continue

Sekali lagi maaf jika cerita ini memiliki kekurangan yang banyak. Coment or like is very welcome. See you later~ ^^

Iklan

3 Comments Add yours

  1. yoneelf berkata:

    lanjutannya dah ada?

    Suka

    1. AmmabeLau17 berkata:

      Writer block T__T #poor

      Suka

  2. parkHyerin berkata:

    Hihihi baru nemu , bagus , comedynya enggak garing

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s